Ma'had Wakaf Al Izzah

Dzikir sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Santri: Kajian Kitab Al-Adzkar di Era Kontemporer

Kajian Kitab Al-Adzkar di Era KontemporerNgaji kitab kuning merupakan tradisi keilmuan Islam yang berperan penting dalam menjaga kesinambungan pemahaman agama lintas generasi. Salah satu bentuk aktualisasi tradisi tersebut adalah kajian kitab al-Adzkar min Kalami Sayyidil Basyar karya Al Imam al-‘Allamah al-Mujtahid Muhyiddin Abi Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah. Kitab ini dikaji secara sistematis oleh al-Mukarrom Ustadz M. Hefni Mubarok, M.Pd dengan pendekatan edukatif yang relevan dengan kebutuhan santri masa kini.

Al-Adzkar merupakan rujukan penting dalam pembinaan ibadah dan amaliyah yaumiyah. Kitab ini menghimpun dzikir, do’a, dan adab yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ, disusun dengan metodologi ilmiah yang kuat dan kehati-hatian dalam periwayatan. Melalui kajian ini, santri tidak hanya diarahkan untuk menghafal lafazh dzikir, tetapi juga memahami makna, konteks, dan implikasinya dalam pembentukan kepribadian Islami.

Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang jelas, runtut, dan mudah dipahami lintas generasi. Hal ini menjadikan kajian kitab kuning tidak terkesan eksklusif, melainkan inklusif dan aplikatif. Dzikir dipahami sebagai praktik spiritual yang hidup, membentuk kesadaran batin, kedisiplinan ibadah, serta akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan utama kajian Al-Adzkar adalah meningkatkan kualitas ibadah dan konsistensi amalan harian santri. Dalam konteks pendidikan Islam, kajian ini menjadi bagian integral dari upaya mencetak generasi yang tafaqquh fiddin, memiliki akidah yang kokoh, serta berpegang teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Dzikir berfungsi sebagai fondasi spiritual yang menopang proses tatsqief (penguatan intelektual), ri’ayah (pendampingan), dan mutaba’ah (evaluasi berkelanjutan).

Lebih jauh, kajian ini berkontribusi pada pembentukan profil santri ideal yakni berakhlak mulia, meneladani sifat Rasulullah ﷺ jujur, amanah, cerdas, dan komunikatif serta memiliki kompetensi membaca al-Qur’an dengan tartil, menghafal 30 juz, kemampuan bahasa Arab, dan unggul dalam adab serta prestasi akademik. Diperkuat dengan keterampilan public speaking, literasi, dan kemandirian, santri dipersiapkan menjadi calon ulama dan pemimpin umat yang siap berkontribusi di tengah masyarakat.

Dengan demikian, ngaji kitab Al-Adzkar tidak hanya berfungsi sebagai kajian teks klasik, tetapi sebagai instrumen strategis dalam pembinaan spiritual, intelektual, dan sosial santri di era kontemporer.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top