Menyaksikan langkah kaki sang anak menjauh demi mengejar cita-cita di pesantren atau di perantauan ilmu, seringkali menyisakan sesak di dada. Rasa khawatir adalah fitrah, namun jika tidak dikelola ia dapat menjadi beban bagi batin orang tua dan penghalang bagi keberkahan ilmu sang anak.
Mari kita belajar dari orang tua para ulama terdahulu di saat mereka jauh dari anak karena safar menuntut ilmu hingga menjadi ulama dan ilmunya terus manfaat sampai kepada kita hari ini. Berikut pelajaran penting dari mereka dalam menguatkan hati, tawakkal, dan ridho atas anak-anak mereka :
1. Memahami Hakikat Kepemilikan (Tawakal)
Seringkali kekhawatiran muncul karena kita merasa memiliki sepenuhnya. Padahal, anak adalah amanah. Sejauh apa pun jangkauan tangan kita untuk melindungi mereka, penjagaan Allah Ta’ala jauh lebih sempurna daripada pengawasan manusia. Sebagaimana dawuh Kanjeng Nabi Muhammad :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku (HR. Bukhari no. 7405 & Muslim no. 2675).
Jika orang tua menaruh prasangka baik (Husnudzan) bahwa Allah Ta’ala akan menjaga anaknya, maka Allah akan memberikan perlindungan tersebut. Kekhawatiran yang berlebih terkadang lahir dari kurangnya rasa percaya kita pada penjagaan-Nya.
Jika kita yakin (berprasangka baik) bahwa Allah akan menjaga dan memuliakan anak kita selama menuntut ilmu, maka Allah akan mewujudkannya.
2. Doa Orang Tua Tercinta
Keyakinan kita bahwa doa orang tua tercinta menjadi perisai yang menembus jarak. Jarak fisik mungkin memisahkan, namun doa adalah kabel penghubung yang tak pernah putus. Doa orang tua tercinta adalah perlindungan paling nyata bagi anak-anak kita dalam safar tholabul ilmi.
Ingatlah wahai diri yang lemah, jalur langit selalu terbuka. Doa orang tua tercinta adalah karamah yang menjadi benteng tak terlihat bagi anak-anak tercinta. Saat rasa cemas datang, ubahlah menjadi energi doa. Hal ini sejalan dengan dawuh Kanjeng Nabi Muhammad :
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
Artinya: Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya (HR. Abu Dawud no. 1536 & At-Tirmidzi no. 1905).
3. Untaian Hikmah Ulama
Para ulama terdahulu telah mengajarkan bahwa melepaskan anak untuk menuntut ilmu adalah bentuk pengorbanan yang paling mulia.
Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya niat orang tua dalam mendukung anak dalam kebaikan dan kesibukan mencari ilmu.
مَنْ شَغَلَهُ اللهُ بِالعِلْمِ الدِّيْنِيِّ فَهُوَ فِيْ كَنَفِ اللهِ وَحِمَايَتِهِ
Artinya: Barangsiapa yang Allah sibukkan dengan ilmu agama, maka ia berada dalam naungan dan perlindungan Allah (Kitab Ihya’ Ulumuddin, Jilid 1, Bab Al-‘Ilmu, hal. 12-15, Darul Kutub Al-Ilmiyyah).
Sebagai orang tua harus memiliki niat tulus, ikhlas dan ridho karena Allahu Ta’ala dalam mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang ilmu. Orang tua harus yakin dan percaya dalam menitipkan permata di Tangan Sang Pemilik Semesta supaya hatinya tenang.
Maka kita sebagai orang tua harus mengerti dan harus memahami bahwa ketenangan batin adalah kunci agar aliran keberkahan ilmu itu tidak terputus oleh kesedihan yang berlarut-larut.
Selain itu dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh Az-Zarnuji mengingatkan bahwa ketenangan hati dan ridha orang tua adalah kunci kesuksesan santri:
إِنَّمَا يَصِلُ الطَّالِبُ إِلَى الْمَقْصُودِ بِرِضَا الْوَالِدَيْنِ، فَإِذَا اطْمَأَنَّ قَلْبُ الْأُمِّ وَالْأَبِ، انْفَتَحَتْ لِلْوَلَدِ أَبْوَابُ الْفَتْحِ
Artinya: Sesungguhnya seorang penuntut ilmu hanya akan sampai pada tujuannya dengan keridaan orang tua. Jika hati ibu dan ayah tenang, maka pintu-pintu kemudahan (kefahaman) akan terbuka lebar bagi sang anak (Ta’limul Muta’allim, Bab Ta’dzimil ‘Ilmi wa Ahlihi (Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya), hal. 32, Cet. Haromain).
Sebagaimana dawuh para ulama, kita sebagai orang tua harus melepaskanlah kekhawatiran itu dan menggantinya dengan keyakinan. Saat kita sebagai orang tua melepaskan anak ke pesantren, kita tidak sedang membuang anak-anak kita tercinta, melainkan sedang menanam investasi akhirat yang paling menjanjikan.
Kita sebagai orang tua harus ingat ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah: Didiklah anak-anakmu, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengantar anak-anak kita tercinta ke gerbang ilmu, selanjutnya kita tawakkal dengan keyakinan penuh bahwa Allah Ta’ala pasti menjaga anak-anak di dalam sana.
Catatan Penting Bagi Kita :
– Anak di pesantren sangat merasakan suasana hati orang tuanya. Jika orang tua tenang dan yakin, mereka akan belajar dengan lebih tangguh.
– Melepaskan bukan berarti kehilangan. Melepaskan adalah cara kita membiarkan anak-anak tumbuh di bawah bimbingan langsung Sang Maha Pengasih.
– Mari ganti rasa khawatir dengan zikir, dan ganti tangis kesedihan dengan sujud syukur atas kesempatan anak kita menjadi penuntut ilmu.
Keberhasilan seorang penuntut ilmu sangat bergantung pada kerelaan hati orang tuanya. Jika hati orang tua tenang dan ridha, maka ilmu akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa sang anak.
Al ‘Afwu Mingkum, Ihdinashshirothol Mustaqien, Wallahu A’lam Bishshowab
Salam Ta’dzim Kami
M. HEFNI MUBAROK, S.Pd.I., M.Pd.
Direktur Eksekutif Ma’had Wakaf Al Izzah